Selasa, 13 April 2010

Gejala Haid

roses alamiah menstruasi terjadi pada setiap wanita yang beranjak dewasa. Proses menstruasi diiringi oleh beberapa indikasi yang terjadi pada tubuh.

Perubahan fisiologis dalam tubuh wanita secara berkala ini dipengaruhi oleh hormon reproduksi.

Untuk beberapa kasus, terdapat indikasi-indikasi atau gejala-gejala yang signifikan muncul seiring dengan proses menstruasi, antara lain:

  • Perut terasa mulas,
  • Mual,
  • Nyeri ketika buang air kecil,
  • Diiringi meriang atau demam dan peningkatan suhu tubuh,
  • Sakit kepala dan pusing,
  • Keputihan,
  • Radang pada vagina,
  • Gatal-gatal pada kulit,
  • Meningkatnya tempramen emosi,
  • Nyeri dan bengkak pada payudara.

Keluarnya darah dari kelamin merupakan indikasi jelas pada proses menstruasi. Proses menstruasi rata-rata terjadi sekitar selama 2 hari sampai 7 hari. Darah yang keluar rata-rata sebanyak antara kisaran 10ml hingga 80ml per hari.

Gejala-gejala yang ada termasuk kategori normal dialami, kecukupan gizi, pola makan dan gaya hidup sangat memerankan kadar nyeri yang dialami selama proses menstruasi. Namun beberapa hal yang harus diperhatikan adalah gejala lainnya yang merupakan indikator dari gejala gangguan kesehatan reproduksi.

Beragam gangguan kesehatan haid yang ada dapat dikelompokkan menjadi 2 klasifikasi. Pertama gangguan yang dipengaruhi faktor organ saluran reproduksi, kemudian lainnya adalah dilatarbelakangi oleh faktor gangguan indung telur.

Beragam gangguan kesehatan haid yang ada dapat dikelompokkan menjadi 2 klasifikasi. Pertama gangguan yang dipengaruhi faktor organ saluran reproduksi, kemudian lainnya adalah dilatarbelakangi oleh faktor gangguan indung telur.

A. Saluran reproduksi

  1. Aglutinasi labia (penggumpalan bibir labia) yang dapat diterapi dengan krim estrogen
  2. Kelainan bawaan dari vagina, hymen imperforata (selaput dara tidak memiliki lubang), septa vagina (vagina memiliki pembatas diantaranya). Diterapi dengan insisi atau eksisi (operasi kecil)
  3. Sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser. Sindrom ini terjadi pada wanita yang memiliki indung telur normal namun tidak memiliki rahim dan vagina atau memiliki keduanya namun kecil atau mengerut. Pemeriksaan dengan MRI atau ultrasonografi (USG) dapat membantu melihat kelainan ini. Terapi yang dilakukan berupa terapi non-bedah berupa dilatasi (pelebaran) dari tonjolan di tempat seharusnya vagina berada atau terapi bedah dengan membuat vagina baru menggunakan skin graft
  4. Sindrom feminisasi testis. Terjadi pada pasien dengan kromosom 46, XY kariotipe, dan memiliki dominan X-linked sehingga menyebabkan gangguan dari hormon testosteron. Pasien ini memiliki testis dengan fungsi normal tanpa organ dalam reproduksi wanita (indung telur, rahim). Secara fisik bervariasi dari wanita tanpa pertumbuhan rambut ketiak dan pubis sampai penampakan seperti layaknya pria namun infertil (tidak dapat memiliki anak)
  5. Parut pada rahim. Parut pada endometrium (lapisan rahim) atau perlekatan intrauterine (dalam rahim) yang disebut sebagai sindrom Asherman dapat terjadi karena tindakan kuret, operasi sesar, miomektomi (operasi pengambilan mioma rahim), atau tuberkulosis. Kelainan ini dapat dilihat dengan histerosalpingografi (melihat rahim dengan menggunakan foto roentgen dengan kontras). Terapi yang dilakukan mencakup operasi pengambilan jaringan parut. Pemberian dosis estrogen setelah operasi terkadang diberikan untuk optimalisasi penyembuhan lapisan dalam rahim

B. Gangguan Indung Telur

  1. Disgenesis gonadal. Disgenesis gonadal adalah tidak terdapatnya sel telur dengan indung telur yang digantikan oleh jaringan parut. Terapi yang dilakukan dengan terapi penggantian hormon pertumbuhan dan hormon seksual
  2. Kegagalan Ovari Prematur. Kelaianan ini merupakan kegagalan dari fungsi indung telur sebelum usia 40 tahun. Penyebabnya diperkirakan kerusakan sel telur akibat infeksi atau proses autoimun
  3. Tumor ovarium. Tumor indung telur dapat mengganggu fungsi sel telur normal

C. Gangguan Susunan Saraf Pusat

  1. Gangguan hipofisis. Tumor atau peradangan pada hipofisis dapat mengakibatkan amenorea. Hiperprolaktinemia (hormone prolaktin berlebih) akibat tumor, obat, atau kelainan lain dapat mengakibatkan gangguan pengeluaran hormon gonadotropin. Terapi dengan menggunakan agonis dopamin dapat menormalkan kadar prolaktin dalam tubuh. Sindrom Sheehan adalan tidak efisiennya fungsi hipofisis. Pengobatan berupa penggantian hormon agonis dopamin atau terapi bedah berupa pengangkatan tumor
  2. Gangguan hipotalamus. Sindrom polikistik ovari, gangguan fungsi tiroid, dan Sindrom Cushing merupakan kelainan yang menyebabkan gangguan hipotalamus. Pengobatan sesuai dengan penyebabnya
  3. Hipogonadotropik, hipogonadism. Penyebabnya adalah kelainan organik dan kelainan fungsional (anoreksia nervosa atau bulimia). Pengobatan untuk kelainan fungsional membutuhkan bantuan psikiater.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar